Selasa, 28 Mei 2013

Reborn of Teman


Semalam, ketika aku hendak tidur, iseng-iseng Javas membuka memeriksa timeline facebookku. Tidak seperti biasanya Javas se-iseng itu menjadi seorang stalker. Entahlah, mungkin karena tak ada ide untuk membuat tulisanlah yang membuatku mencari-cari bahan bacaan agar ide untuk menulis tetap ada. Dan saat itulah Javas mmenemukan sebuah tulisan yang menarik untuk dibaca, dan anehnya, sepertinya apa yang ada dalam tulisan tersebutlah isinya lebih mirip dengan Javas selama ini.

Karena Javas tidak sepandai itu dalam mengambil hikmah dan mengungkapkannya dalam kata-kata, lebih enaknya jika Javas langsung meng-copas keseluruhannya saja. Mungkin sobat blogger lain juga akan tersentuh dengan tulisan ini. Javas harus mengakui, tulisan ini telah menyadarkanku tentang siapakah diriku. It's call Reborn of Teman

Saya individualis yang sering "terjebak" dalam kompaknya sebuah persahabatan. 
Entah sejak kapan ini berawal, namun yang jelas dari kecil saya memang tidak terlalu suka mempunyai teman. Hampir setiap waktu yang ada saya habiskan dan nikmati sendiri. Biasanya saya sibuk dengan urusan saya sendiri, menikmati setiap detik waktu yang saya lalui sendiri, namun tidak berarti juga saya mempunyai "dunia" saya sendiri. Tidak, saya makhluk sosial normal yang hidup diantara sekumpulan individu-individu di sekitar saya, namun saya cenderung untuk menikmati keadaan secara sendiri.
Teman, menurut saya adalah tolok ukur persaingan. Dalam arti, dari masa kecil hingga sekarang saya sudah memasuki dunia kerja seperti saat ini, teman bagi saya adalah sebuah kompetisi mempertahankan prinsip dan nilai. Sebagai contoh' sewaktu sekolah dulu, teman bagi saya adalah sebatas well-okay-kalau-dia-bisa-ranking-satu-kenapa-saya-tidak. Atau dalam memasuki dunia kerja, teman adalah bagaimana saya bisa meningkatkan etos kerja melebihi dari mereka. Atau yang kebih alamiah dan simple, teman adalah mereka yang sekedar bertegur sapa setiap pagi, bertemu pada makan siang dengan obrolan flat dengan topik seadanya, kemudian pulang kembali ke rumah masing-masing.
Mungkin Tuhan tahu kalau saya terlalu sombong dan picik dalam mengartikan sebuah teman. Hingga pada saat-saat tertentu, ditunjukkanNya lah beberapa arti penting tentang teman melalui orang-orang yang baru saya kenal. Dari situlah saya mulai memahami sedikit-demi sedikit tentang arti teman.
Dimulai dari beberapa tahun lalu, ketika saya diperlihatkan pada sekumpulan geng khas anak SMA, yg pada saat itu saya berada pada posisi senior dalam soal umur, namun untuk mereka yang masih anak baru gedhe, hal-hal seperti itu tidak menjadi masalah. Mampirlah saya pada satu persahabatan unik dr sekumpulan teman-teman muda saya. Dari mereka saya belajar bahwa teman tidak pernah mengenal batas usia. Bahwa teman tidak hanya sekedar teman, tapi merupakan tempat bersenda gurau melepas ketegangan free tanpa dipungut biaya. Bahwa teman tidak hanya sekedar perkumpulan hahahihi naum bisa lebih mendalam dengan melibatkan beberapa orang terdekat masing-masing dari mereka, semisal keluarga mereka yang ternyata bisa juga untuk "diperlakukan" sebagai layaknya teman. Bahwa teman bersifat long lasting, tidak hanya berhanti pada satu moment, tapi tetap ada kelanjutan hingga kapanpun. Dengan mereka ini, sampai sekarang mereka menginjak usia dewasa, saya masih berhubungan dengan sangat baik.
Kemudian, kejadian pertemanan selanjutnya yang ditunjukkan kepada saya adalah mengenai solidaritas. Seiring dengan pendewasaan diri, ternyata teman adalah mereka yang perduli kepada kita dalam keadaan apapun. Saya ingat dulu, ada berita duka dari salah satu teman lama yang tiba-tiba meninggal karena sakit. Ternyata teman, bisa ditempatkan sebagai saudara, mereka berbondong-bondong pergi ke rumah duka yang jaraknya jauh dan harus ditempuh dengan bus antar kota. Disinilah solidaritas berada. Saya menjadi saksi secara langsung bagaimana mereka mengkoordinir, mengumpulksn di satu tempat, berangkat secara bersama, mengumpulkan sumbangan secara suka rela, kemudian melakukan penghiburan sebatas yang mereka bisa kepada orang tua yang ditinggalkan. Iys, beginilah sebenarnya teman.
Dan baru-baru ini, saya kembali menjadi semacam reporter live untuk diri saya sendiri betapa teman adalah sesuatu yang seharusnya dari dulu saya appreciate. DihadirkanNya lah beberapa orang kepada saya secara tidak sengaja yang memperlihatkan dengan jelas dan nyata apa sebenarnya aarti dari teman.
Dari semua kejadian pertemanan yang sudah saya alami tadi menunjukkan kepada saya untuk lebih menaikkan peringkat tentang arti teman terhadap diri saya sendiri. Terimakasih kepada mereka-mereka yang sudah menikamati ssbuah pertemanan, yang kemudian sedikit memberi saya kesempatan untuk sekedar mencicipinya. Saya bangga pernah berada di sisi jauh dalam menikamati pemandangan sebuah pertemanan. Karena beginilah seharusnya manusia sebagai makhluk sosial. Saya hanya mau menikmati dari jauh sebagai sebuah talenta manusia sebagai pencetak komunitas. Yah, menikmati dari jauh adalah cukup bagi saya.

11 komentar:

ryanfile mengatakan...

Teman itu berharga ya.
terima kasih sharingnya. mengingatkan saya arti seorang teman dalam hidup ini.

Nenna Massara mengatakan...

teman itu lebih berarti dari pada semuanya .. tapi juga harus mengutamakan orang tua dulu ya :D

tofik dwi pandu mengatakan...

bener temen itu berharga gak bisa di nilai pake duit atau mata uang dunia apalagi rupiah.
tapi yg slektif milih temen, jangan sampe kita jadi kebawa pergaulan temen yg gak bener. (kok jadi ceramah) hehe

Ika Mahardika Ningtiyas mengatakan...

Dan sejatinya manusia hidup membutuhkan orang lain. Dan figur teman atau yang lebih akrab lagi sahabat dihadirkanNya untuk melengkapi hidup kita :)

Moti Peacemaker mengatakan...

walah..sosialisme luar biasa bang...
interaksi mati tanpa kesadaran

Lidya Basrindu mengatakan...

sahabat = keluarga, keluarga = sahabat :)

AldisaFadlillah mengatakan...

Teman itu berharga..
teman adalah orang yang dapat membantu masa depan..
walaupun kita pintar dan jenius tapi kalo gak punya teman?
akan tetap memiliki kesusahan dalam mencari kerja..
(gak nyambung di)
ya gak papa sesekali..muehehehe

ahmad muazim abidin mengatakan...

ceritanya g jauh beda tuh vas sama gua, cuman gua akhir2 ini agak gmana gitu sih kalo ngomongin ttg temen, soalnya susah nyari temen yg bener2 deket tempat tinggalnya sama gua saat ini yg bisa gua mintain tolong kalo gua ada perlu. jadi gua makin individualis

ahmad fauzi mengatakan...

gue kayaknya belom nemuin apa arti dari teman sesungguhnya. gue hanya bisa berharap, gue pernah berharap sama orang agar dia jadi sahabat gue tapi hasilnya malah kebalikkannya. mungkin saat'' ini, gue jadi individualis, tapi ga mnutup kmungkinan gue cerita'' ke orang lain. gue pengen banget rasain apa itu arti teman sesungguhnya.

tiageardy mengatakan...

Gue belum menemukan peng-artian sahabat sebenernya dalam konteks kehidupan nyata.. sahabat yg mereka bilang dan elu-elukan itu. yg gue tau cuma, sahabat adalah seorang pesaing sejati, kadang super baik dan kadang menikam..

Ami Potabuga mengatakan...

sy adlh org yg cnderung individualis. lbh bnyak menikmati dan melalui wktu sndrian :)
teman...satu kata seribu cerita, seribu arti, dan seribu makna :)

Posting Komentar

Terima kasih atas komentar dan kunjungannya. Happy blogwalking!